Halaman

Cari Blog Ini

Sabtu, 11 Agustus 2012

Sekali Menulis Pantang Berhenti


Sekali menulis pantang berhenti. Ini adalah semboyan sebuah organisasi jurnalistik kedokteran di UI. Hal ini saya dapatkan ketika iseng browsing di google. Saya rasa semboyan itu mengambarkan sebuah harapan dari calon anggota, anggota dan alumninya. Akan tetapi bukan berarti orang lain tidak boleh memiliki harapan yang sama. Saya rasa semua orang ingin dapat menulis, menuangkan pemikirannya, bisa mempengaruhi orang lain, dan terus produktif dan pantang berhenti. Bila ada pepatah harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Maka cara yang paling efektif meninggalkan nama adalah dengan berkarya dan menulis sehingga meninggalkan jejak pemikiran kita.
Tidak peduli dengan besar-kecilnya pentingnya tulisan kita, tetapi dengan kita menulis, kita ada. Ada dalam arti eksis dalam dunia ini. Hal yang senada dengan cognito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Tetapi jika tidak ditulis maka nama kita pun akan hilang seumur usia kita. Saya tidak dapat membayangkan sumpah Hippocrates dapat kita lantunkan saat para dokter disumpah, jika sumpah tersebut tidak dituliskannya. Dan jika Hippocrates tidak pernah menulis apapun yang ia pikirkan atau kerjakan, entah siapa yang kita anggap sebagai bapak kedokteran. Dia ada karena dia menulis.
Bagaimana dengan kita? Saya rasa tentu kita juga ingin hal yang sama, kita ingin maju. Saya mendapatkan sinyal kuat itu dari mahasiswa kedokteran UI angkatan 2011. Mereka memiliki yel-yel angkatannya dengan kata: MAJU !. Akan tetapi bila menulis hal yang sama dengan orang lain yang sudah menulisnya terlebih dahulu, tentu tulisan kita akan tenggelam. Orang tidak akan meliriknya. Hippocrates menjadi bapak kedokteran karena ia memiliki konsep pemikiran yang baru dalam pendekatan diagnosis dan terapinya. Dan kita tidak bisa memiliki pemikiran yang baru jika kita tidak membaca dan terus belajar. 
Ibarat sudah suratan garis tangannya, dokter diwajibkan untuk terus belajar seumur hidupnya. Karena ilmu pengetahuan kedokteran terus berkembang, sementara dokter juga ingin memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi pasiennya. Hal yang dipelajarinya saat ini, 50%-nya dapat saja menjadi salah dalam jangka waktu 10 tahun. Tentu dokter yang baik, harus membaca dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran di bidangnya.
Untuk berjalan satu kilometer dimulai dengan satu langkah kecil. Oleh karena itu mulailah dari sekarang membaca dan mengikuti perkembangan ilmu. Jangan mau kalah dengan semut hijau yang terus bekerja sepanjang hayatnya.[D]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar